Minggu, 04 Januari 2015



NASEHAT BUATKU DAN SAHABAT

kumulai dengan puji kepada Allah maha melihat..
kepada Rasulullah salam dan salawat..

pada keluarganya dan para sahabat..
juga pembaca dariku do'a semoga sehat..

waktu berjalan begitu cepat..
tak terasa kematian mendekat..

hidup di dunia sangatlah singkat..
tak lama lagi akan kiamat..

sudahkah kita melaksanakan amanat..
tahukah kita makna syahadat..

apakah kita menjaga shalat..
puasa dan haji juga zakat..

marilah kita persiapkan tempat..
di syurga Allah ﷻ yang bertingkat-tingkat..

apapun diinginkan silahkan berbuat..
tak ada susah, sedih dan penat..

ada bidadari cantik nan memikat..
makanan dan buah-buahan yang dekat..

juga wajah Allah ﷻ akan kita lihat..
itulah yang terbaik dari semua nikmat..

semua itu hanya bisa kita dapat..
dengan aqidah dan amalan yang tepat..

ataukah justru di neraka jadi tempat..
di dalamnya siksaan begitu berat..

panasnya membakar sakitnya sangat..
banjir darah, nanah baunya menyengat..

itulah balasan yang paling tepat..
bagi orang yang doyan maksiat..

inilah nasehat buatku dan sahabat..
sebelum ajal dicabut malaikat..

jauhi jalan syaitan yang terlaknat..
jika tidak, maka akan tersesat..

nikmatnya nafsu cuma sesaat..
penyesalan setelahnya belipat-lipat..

tinggalkan larangan ajakan syahwat..
ikuti perintah dalam syari'at..

ikuti Rasulullah ﷺ dan para sahabat..
jauhi syirik, bid'ah yang dibuat-buat..

marilah kita segera bertaubat..
jangan sampai kita terlambat..

lupakan masa lalu yang begitu pekat..
masih ada waktu berubah dan berbuat..

tuntutlah ilmu yang bermanfaat..
amalkan ilmu untuk akhirat..

jangan lupa dakwah amanat..
keseluruh pelosok masyarakat..

semoga ampunan Allah ﷻ kita dapat..
rahmatNya luas tercantum dalam ayat..

di kota Rasul ﷺ bait ini kubuat..
senin 14 Rabiul Awwal jam 12 kurang seperempat..
________________
✒️ Ayyub Soebandi
(Mahasiswa Fakultas Hadits, Islamic University of Madinah, Saudi Arabia)
FB : Ayyub Soebandi
Twitter : @ayyubsoebandi
BBM : 742FDB7E


- Posted using BlogPress from my iPhone
Read More..

Kamis, 01 Mei 2014

Ada Apa Dengan Keutamaan Bulan Rajab ??

Rajab adalah salah satu nama bulan dalam kalender islam / hijriyah. Dinamakan rajab yang berarti agung karena dahulu dizaman jahiliyah, kaum arab sangat mengagungkan bulan ini. Dan Allah sendiri telah menetapkannya sebagai salah satu dari empat bulan yang utama yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Bulan-bulan ini juga disebut sebagai bulan-bulan haram (suci) sebagaimana dalam firman-Nya : Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(QS. At Taubah : 36).

Nama-nama bulan haram ini lalu dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dalam hadis Muttafaq'alaihi : Dalam setahun terdapat 12 bulan diantaranya empat bulan haram; tiga bulan diantaranya berurutan,yaitu ; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab bulan Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhirah) dan Sya’ban”.

Keempat bulan ini disebut bulan haram dengan sebab :
- Adanya pengharaman untuk berperang didalamnya, kecuali kalau musuh yang memulai duluan, sebagaimana dijelaskan dalam ayat diatas,
- Beratnya akibat dari dosa dan maksiat didalamnya melebihi bulan-bulan lainnya.

Lalu apakah ada keutamaan atau amalan lain yang diutamakan dan dikhususkan dalam bulan rajab ini ?

Sebagian ulama telah berbeda pendapat tentang ada tidaknya amalan masyru' dibulan ini, diantara amalan tersebut ;

1.Menyembelih hewan kurban (Al-'atirah/Ar-Rajabiyah).Dizaman jahiliyah,biasanya penyembelihan ini dilakukan pada 10 hari awal Rajab, hadis yang menganjurkan ini dalam HR Tirmidzi dan Abu Daud :“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya atas setiap keluarga dalam setiap tahunnya berudhiyyah dan ‘atirah, tahukah kalian apa yang dimaksud dengan ‘Atirah? Ini yang orang menamakannya dengan Rajabiyyah” . Namun hadis ini dinilai dhoif oleh beberapa ulama, bahkan jikalaupun shahih, namun amalan ini telah mansukh (hukumnya tidak lagi berlaku) menurut jumhur ulama.

2.Umrah khusus dibulan rajab. Sebagian ulama menganjurkan umrah dibulan ini dengan dalil bahwa Rasulullah melakukan umrah dalam bulan rajab. Namun pendapat yang benar adalah tidak masyru'nya mengkhususkan umrah dibulan rajab sebab Aisyah radhiyallahu'anha telah membantah jika Rasul berumrah dibulan rajab dalam ucapannya : beliau tidak pernah umroh sekalipun di bulan Rajab” (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun yang dipraktekkan oleh sebagian masyarakat berupa amalan-amalan yang lebih cenderung ke perkara bid'ah dan tidak memiliki dalil shahih adalah diantaranya ;

1.Puasa Khsusus Bulan Rajab. Sebagian orang mengkhususkan puasa tertentu dalam bulan rajab atau berpuasa sebulan penuh. Padahal puasa ini tidak memiliki dalil shahih dan jelas dari amalan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Sebab itu banyak para sahabat yang mengingkari amalan seperti ini. Dalam masalah puasa ini telah diriwayatkan beberapa hadis, namun semuanya hadis yang lemah sekali atau palsu. Imam An-Nawawi berkata : "Tidak ada larangan demikian pula anjuran secara khusus untuk berpuasa di bulan Rajab akan tetapi secara umum hukum asal puasa adalah dianjurkan".

2.Shalat Raghaib.Yaitu shalat yang dikerjakan pada jum'at pertama dari bulan rajab. Terdiri dari 12 rakaat dengan 6 kali salam. Waktunya antara magrib dan isya, dan bacaan surat setelah Al-Fatihah disetiap rakaat adalah Surat Al-Qadr 3x lalu Al-Ikhlash 12x. Setelah shalat membaca shalawat sebanyak 70x lalu berdoa sekehendaknya. Tidak diragukan bahwa amalan ini adalah suatu bid'ah yang tidak memiliki dalil sama sekali,bahkan hadis yang diriwayatkan dalam masalah ini semuanya palsu. Imam An-Nawawi berkata : "Semoga Allah membinasakan orang yang mengadakan dan membuat-buatnya (shalat raghaib),sebab ia merupakan bid'ah yang sangat mungkar, ia merupakan diantara bid'ah sesat dan kejahilan, dan didalamnya terdapat kemungkaran yang jelas". (Syarh Muslim). Abu Syaamh Asy-Syafi'i menukil bahwa Al-Khaththabi berkata : "Hadis-hadis shalat raghaib semuanya kumpulan hadis dusta dan kepalsuan yang tidak sedikit" (Al-Ba'its)

3.Shalat sunat khsusus di malam nishfu/pertengahan rajab. Shalat ini banyak dilakukan oleh sebagian masyarakat kita, padahal semua hadis-hadis tentang masalah ini adalah palsu dan tidak bisa dijadikan dalil sama sekali, sebagaimana ucapan Ibnul-jauzi : "Hadis-hadisnya merupakan hadis-hadis palsu" (Al-Maudhu'at).

4.Shalat Laitul Mi'raj (Malam 27 Rajab). Orang yang melakukan shalat ini berdalil dengan hadis : "Dalam Rajab terdapat satu malam yang mana orang yang beribadah didalamnya dituliskan pahala setahun, yaitu 3 hari sebelum akhir Rajab (malam 27)". Hadis ini dhoif jiddan, bahkan dinilai maudhu'/palsu oleh banyak ulama.

5.Peringatan Isra' Mi'raj. Tidak ada hadis shahih yang menentukan kapan terjadinya malam Isra’ dan Mi’raj apakah dibulan Rajab atau selainnya. Setiap hadits yang menentukan waktu terjadinya malam tersebut adalah hadits lemah menurut para ulama hadits. Dan dilupakannya manusia akan waktu terjadinya merupakan hikmah besar yang dikehendaki oleh Allah ta'ala.

Bahkan sekiranya ada dalil shahih yang menentukan kapan terjadinya Isra’ Mi’raj maka tidak boleh bagi kaum muslimin mengkhususkannya dengan ibadah-ibadah tertentu dan tidak boleh pula merayakannya karena Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak pernah merayakannya dan tidak pula mengkhususkan malam tersebut dengan sesuatu kegiatan.

Seandainya perayaan tersebut disyariatkan tentu Rasulullah dan para sahabatnya telah menjelaskannya kepada ummat ini, baik dengan perkataan ataupun dengan perbuatan dan seandainya memperingati malam tersebut disyariatkan tentu mereka orang yang paling pertama yang akan melakukannya.Hudzaifah radhiyallohu anhu berkata : Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh para sahabat Rasulullah maka jangan kamu beribadah dengannya”.

Nabi telah menyampaikan seluruh risalah ad-dien ini secara sempurna.Maka seandainya mengagungkan dan merayakan malam tersebut merupakan bagian dari Ad-Dien tentu Nabi telah menyampaikannya dan tidak akan menyembunyikannya. Karenanya ketika hal itu tidak beliau sampaikan, maka diketahuilah bahwa merayakan dan mengagungkannya bukanlah bagian dari Islam sedikitpun, sebab Allah ta'ala telah menyempurnakan bagi ummat ini dien mereka serta mengingkari siapa saja yang membuat syariat/amalan ibadah baru yang tidak diizinkan-Nya, sebagaimana firman-Nya : “Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam jadi agama bagimu”.(Al-Maidah : 3).

Apakah ada doa khusus menyambut bulan rajab ?

Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu'alaihi wasallam bahwa ketika tiba bulan rajab beliau berdoa : "Allaahumma baarik lana fi rajabin wasya'baan,waballighna ramadhaan" (Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan rajab dan sya'ban, serta sampaikanlah kami pada Ramadhan).
Hadis ini tidak shahih, dan tidak perlu dibaca khusus diawal rajab. Namun apabila seorang muslim berdoa agar diberkahi dalam waktu-waktunya atau agar disampaikan pada bulan ramadhan maka tidak mengapa karena doa tersebut doa yang muthlaq (tidak dikhususkan pada bulan tertentu atau tempat tertentu).

Kesimpulannya : Tidak ada amalan khusus dalam bulan rajab, bahkan banyak diantara amalan yang diadakan didalamnya adalah amalan bid'ah lagi mungkar. Bulan rajab sama halnya dengan bulan lain. Tidak ada keistimewaan khusus didalamnya kecuali karena ia adalah salah satu bulan haram, yang wajib dihormati dengan cara banyak melakukan ibadah (tanpa mengkhususkan ibadah tertentu seperti yang telah disebutkan) serta menjauhi maksiat. Allahu a'lam.

- Ustadz Maulana La Eda, Lc
- Posted using BlogPress from my iPhone
Read More..

Sabtu, 26 April 2014

Keshalihan Terhinakan

Daya tarik dunia memang memukau. Iman yang lemah bisa berubah, dan yang kuat bisa terjerat. Setan memperdaya kita dengan angan-angan yang panjang. Dalam pengumpulannya, penimbunannya, juga kebakhilannya dari berbagi kepada sesama. Akhirnya kita menyibukkan diri dengan aneka rupa kelezatan dan lalai dari penyiapan bekal menuju kepulangan ke akhirat. Sehingga seluruh kerja kita adalah upaya menikmati dunia.

Namun ada juga tipu daya setan yang sangat lembut dan samar; mengajak kita menihilkan dunia dengan meninggalkannya sejauh mungkin. Hingga sekedar memiliki makan untuk sehari pun kita anggap berlebihan. Kita membanggakan agama dan keshalihan dalam ketidakmandirian kita mencukupi diri sendiri.

Bukan kemiskinannya yang salah, karena dalam bahasa iman, ia murni kuasa Allah. Namun keengganan kita dalam memenuhi hajat hidup, bahkan seringkali dalam hal-hal yang mubah dengan dalih akhiratlah yang menjadi sebab. Mengaku sibuk dengan ibadah, kemudian kehilangan tenaga untuk mencari maisyah. Dan ia adalah bisikan setan yang sangat berbahaya.

Sebab selain merupakan riya’ keshalihan, tidak sedikit di antara kita yang kemudian menjual kehormatan dan agamanya saat harus memenuhi kebutuhan hidup. Meluncur jatuh dan hancur lebur sebab meminta-minta kepada orang lain atas nama sikap zuhud. Menghiba-hiba dengan pameran keshalihan dan permakluman atas padatnya agenda peribadatan. Padahal, kedekatan kita dengan agama harusnya menjadikan kita hamba yang mulia, bukan sebaliknya.

Mari kita bedakan kemiskinan yang mulia dengan yang hina. Dari bagaimana ia kita peroleh; karena malas berusaha atau setelah kerja keras yang hasilnya tidak seberapa. Dari sikap yang menjaga kehormatan atau menghinakannya. Dari sikap sabar atau berkeluh kesahnya. Serta dari rela memberi meski saat susah atau malah meminta-minta meski belum sangat menderita.

Maka wajib bagi kita memenuhi kebutuhan dan bersabar saat dalam kekurangan. Agar tidak terjerumus dalam jebakan; mencari muka di hadapan penguasa, menipu diri di hadapan masyarakat ramai, atau menyibukkan diri dalam beribadah dengan dalih taqarub kepada Allah, kemudian lupa adanya tanggung jawab yang harus ditunaikan. Karena semua itu adalah kelemahan.

Kita harus bekerja sekuat tenaga mencari yang halal agar bisa memberi dan tidak diberi, mampu bersedakah dan bukan disedekahi, bagaimanapun nanti Allah menentukan hasilnya. Inilah sikap yang hebat dan kuat, mulia dan utama. Agar kemiskinan ini tidak menghinakan.

- http://www.arrisalah.net/2014/04/01/keshalihan-terhinakan/
- Posted using BlogPress from my iPhone
Read More..

Kamis, 23 Mei 2013

Bagaimana kita mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadan? Amal apa yang paling utama di bulan yang mulia ini?

Alhamdulillah.

Sungguh bagus sekali pertanyaan anda wahai saudaraku yang mulia. Karena anda bertanya tentang cara mempersiapkan diri menyambut kedatangan Ramadan, yang banyak di antara manusia   menyimpang dari hakekat puasa. Mereka menjadikannya sebagai musim untuk makan, minum, menghidangkan kue-kue, begadang atau menonton televisi. Mereka mempersiapkan  makanan jauh-jauh hari sebelum Ramadan, karena khawatir kehabisan atau harganya naik, maka mereka memborong  makanan dan minuman. Kemudian mereka mencari-cari informasi di chanel televisi untuk mengetahui acara apa yang menarik diikuti dan yang layak ditinggalkan. Mereka sungguh telah bodoh –dengan sebenarnya- hakekat puasa di bulan Ramadan. Mereka abaikan ibadah dan ketaqwaan, dan kemudian hanya memenuhi kebutuhan perut dan pandangan matanya semata.  

Kedua: sebagian yang lain sadar akan hakekat puasa di bulan Ramadan, maka mereka mempersiapkan dirinya sejak bulan Sya’ban. Bahkan ada yang telah mempersiapkan sebelum itu.

Di antara persiapan yang terpuji untuk menyambut bulan Ramadan adalah :

1.      Bertaubat dengan jujur.

Taubat pada dasarnya wajib setiap saat. Akan tetapi karena akan (menyambut) kedatangan bulan yang agung dan barokah ini, maka lebih tepat lagi jika seseorang segera  bertaubat dari dosa-dosanya yang diperbuat kepada Allah serta dosa-dosa karena hak-hak orang lain yang terzalimi.  Agar ketika memasuki bulan yang barokah ini, dia disibukkan melakukan ketaatan dan ibadah dengan dada lapang dan hati tenang.

Allah ta’ala berfirman:

 ( وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ) سورة  النور: 31

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

Dan dari Al-Aghar bin Yasar radhiallahu ’anhu dari Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat (kepada Allah) dalam sehari seratus kali” (HR. Muslim, no. 2702)

2.      Berdoa.

Diriwayatkan dari sebagian (ulama) salaf, bahwa mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadan, kemudian mereka berdoa lagi lima bulan setelahnya semoga amalnya diterima. Seorang muslim hendaknya berdoa kepada Tuhannya agar mendapatkan bulan Ramadan dalam keadaan baik,  dari sisi agama maupun fisik, juga hendaknya dia berdoa semoga dibantu dalam mentaati-Nya serta berdoa semoga amalnya diterima.

3. Gembira dengan semakin dekatnya kedatangan bulan yang agung ini.

Sesungguhnya mendapatkan bulan Ramadan termasuk nikmat Allah yang agung bagi seorang hamba yang muslim. Karena bulan Ramadan termasuk musim kebaikan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Ia adalah bulan Al-Qur’an serta bulan terjadinya peperangan-peperangan yang sangat menentukan dalam (sejarah) agama kita.

Allah berfirman: “Katakanlah, 'Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus: 58)

4.      Menyelesaikan tanggungan (qadha) kewajiban puasa.

Dari Abu Salamah, dia berkata, saya mendengar ‘Aisyah radhiallahu ’anha berkata: “Aku memiliki kewajiban berpuasa dari bulan Ramadan lalu, dan aku baru dapat mengqadanya pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, no. 1849, dan Muslim, no. 1146)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dari keseriusan beliau (mengqadha) pada bulan Sya’ban disimpulkan bahwa hal itu menunjukkan tidak diperkenankan mengakhirkan qadha sampai memasuki bulan Ramadan berikutnya.” (Fathul Bari, 4/191)

5.      Membekali diri dengan ilmu agar dapat mengenal hukum-hukum puasa dan mengetahui keutamaan Ramadan.

6.      Segera menyelesaikan pekerjaan yang boleh jadi (jika tidak segera diselesaikan) dapat mengganggu kesibukan ibadah seorang muslim di bulan Ramadan.

7.      Berkumpul bersama anggota keluarga, dengan istri dan anak-anak untuk menjelaskan hukum-hukum puasa dan mendorong  si kecil untuk berpuasa

8.      Mempersiapkan sejumlah buku yang layak untuk dibaca di rumah atau menghadiahkannya kepada imam masjid agar di baca (di depan) jamaahnya pada bulan Ramadan.

9.      Berpuasa pada bulan Sya’ban sebagai persiapan untuk berpuasa di bulan Ramadan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لا يَصُومُ ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ . (رواه البخاري، رقم 1868، ومسلم، رقم 1156)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ’anha: “Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia tidak pernah berbuka. Dan (lain waktu) beliau tidak berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia pernah berpuasa. Dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadan dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam memperbanyak berpuasa selain di bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari, no. 1868, Muslim, no 1156)

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ’anhu, dia berkata: “Saya bertanya, Wahai Rasulullah saya tidak pernah melihat anda berpuasa di antara bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” (Beliau) bersabda: “Itu adalah bulan yang sering diabaikan orang, antara Rajab dan Ramadan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amal (seorang hamba) kepada Tuhan seluruh alam. Dan aku senang saat amalanku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Nasa’i, no. 2357, dinyatakan  hasan oleh Al-Albany dalam shahih Nasa’i).

Dalam hadits di atas dijelaskan hikmah berpuasa pada bulan Sya’ban, yaitu bulan diangkatnya amalan. Sebagian ulama menyebutkan hikmah lainnya, yaitu bahwa puasa (pada bulan Sya’ban) kedudukannya seperti sunnah qabliyah dalam shalat fardhu. Agar jiwa merasa siap dan bersemangat dalam menunaikan kewajiban. Demikianlah yang dikatakan terhadap puasa di bulan Sya’ban sebelum Ramadan.

10.  Membaca Al-Qur’an.

Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan bacaan (Al-Qur’an).

Adalah Amr bin Qais apabila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya, lalu berkonsetrasi  membaca Al-Qur’an.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanaman."

Dia juga berkata: "Perumpamaan bulan Rajab bagaikan angin, sedangkan perumpamaan Sya’ban bagaikan mendung dan perumpamaan Ramadan bagaikan hujan. Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiram pada bulan Sya’ban, bagaimana dia akan memanen di bulan Ramadan."

Kini bulan Rajab telah berlalu, lalu apa yang akan anda kerjakan pada bulan Sya’ban jika anda ingin bertemu dengan bulan Ramadan. Demikianlah halnya keadaan Nabi anda dan salaf (pendahulu) umat  ini di bulan yang barokah. Maka, dimana posisi anda dari amalan dan derajat tersebut?

Soal Jawab Tentang Islam

http://islamqa.info/id/ref/92748#.UZ3Hp1Ons9I.twitter

Read More..

Kamis, 07 Maret 2013

Mulia Karena Ilmu

Mempelajari ilmu agama adalah hal yang sangat mulia dan dicintai Allah subhanahu wa ta’ala. Karena dengan mempelajari dan memahami kandungan ajaran Islam, kita bisa mengerti, misalnya mana ibadah yang dianjurkan dan mana ibadah yang tidak dianjurkan, mana ibadah yang di prioritaskan, dan berbagai macam tuntunan untuk meniti hidup di dunia ini sampai akhir hayat.

Tentu setiap kita menginginkan kebaikan. Namun, terkadang kebaikan tersebut ukurannya bermacam-macam. Ada yang mengartikan kebaikan dengan berlimpahnya harta, kedudukan terhormat di masyarakat, jabatan yang tinggi, keluarga yang bahagia, atau yang lainnya. Mengenai hal ini, sebenarnya Allah telah menetapkan standar kebaikan bagi manusia, melalui lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من يريد الله به خيرا يفققه في الدين )متفق عليه)

“Barangsiapa di kehendaki oleh Allah kebaikan, pasti akan difahamkan dengan agama ini.”
(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Ya, tidak terhitung kebaikan yang akan kita peroleh ketika kita faham akan agama ini. Karena dengan menggunakan waktu kita untuk mempelajari ilmu syar’i dalam rangka tafaqquh fiddin, maka akan banyak ilmu yang masuk ke dalam diri kita, yang itu akan mengubah cara pandang kita dalam beragama, akan mengarahkan bagaimana kita berpikir dan bersikap, akan memandu kita selama menjalani kehidupan di dunia ini. Dengan memahami Islam sebagaimana pemahamannya Nabi dan para shahabat, akan menjadikan keIslaman kita tidak hanya sekedar ikut-ikutan karena sudah menjadi tradisi, yang itu kadang jauh dari tuntunan Islam itu sendiri. Sungguh, kebaikan yang tiada bandingannya.

Maka di sinilah kita tahu pentingnya memiliki semangat mempelajari Islam, untuk kemudian mengamalkannya. Dan merupakan satu kebaikan yang Allah karuniakan kepada kita, tatkala kita cinta dan merasakan lezatnya menimba ilmu syar’i, sehingga kita bisa berjalan sesuai dengan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al Fath,


“Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak.” ( QS. Al Fath: 28)

Yang dimaksud dengan membawa petunjuk dalam ayat ini adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang hak maksudnya adalah amal shalih.

Keutamaan dari ilmu ini juga ditunjukkan ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabinya untuk selalu meminta di tambahkan ilmu sebagaimana dalam surat Thaa haa,


“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaa haa: 114)

Dalam menjelaskan ayat ini Ibnu Hajar menyampaikan: “Sangat jelas sekali bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu, karena Allah memerintahkan kepada Nabinya agar selalu berdo’a dan meminta di tambahkan ilmu.” [Fathul Baari 1/187].

Kehidupan dunia adalah lahan untuk beramal dan beribadah. Dalam menjalankan aktivitas kehidupan dunia ini, tentu ada harapan yang kita idam-idamkan –dan ini harapan setiap muslim- bahwa amalan dan ibadah yang kita kerjakan, diterima Allah. Karena konsekuensi dari amal yang benar adalah terhindar dari sengatan api neraka. Maka dengan panduan ilmu dan kecintaan untuk thalabul ilmu adalah penting sebagai bagian dalam menjalankan ritme kehidupan dunia. Dengan cahaya ilmu itulah, terlihat jelas jalan yang harus kita lalui, yang akan membimbing kita selalu konsisten di jalan ilmu tersebut dan membimbing kita menempuh jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

Terdapat tiga kelompok manusia dalam hal ilmu dan amal:
Pertama , ialah kelompok orang yang menggabungkan antara ilmu yang diketahuinya lalu dibarengi dengan amal. Inilah kelompok yang diberi keberuntungan, karena bisa memadukan antara ilmu dan amal. Mereka bisa merasakan lezatnya menimba ilmu dan bersemangat dalam mengamalkannya.

Kedua, golongan orang-orang yang mencari ilmu dan mempelajarinya, tapi tidak diiringi dengan amalan. Mereka hanya sekedar mencari ilmu saja. Secara teori banyak mengerti dan faham, tapi dalam mengamalkan ilmu, kosong. Tipe seperti ini disebut dengan Al Maghduub (orang yang di murkai), sebagaimana orang-orang dari kalangan Yahudi dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka.

Ketiga, ialah golongan yang beramal tanpa dilandasi oleh ilmu. Mereka adalah orang yang sesat dari kalangan Nasrani dan orang yang mengikuti mereka.

Tiga golongan yang disebut di atas termaktub dalam surat Al Fatihah, yang selalu kita baca dalam shalat,





“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka. Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah: 6-7)

Dari ayat yang sering kita baca tersebut, memberikan pedoman supaya kita berjalan dengan orang-orang yang punya ilmu dan mengamalkan ilmu yang sudah diketahuinya. Bukan orang-orang yang punya ilmu saja dan mengabaikan amal, atau orang yang beramal tanpa landasan ilmu. Dan ilmu yang memberi manfaat kepada orang yang mengerti dan mengamalkannya adalah ilmu yang bersumber dari Al Quran dan Sunnah.

Penting untuk kita ketahui, bahwa kewajiban kita, seorang muslim, dalam mempelajari ilmu syar’i adalah agar ibadah yang kita kerjakan, sesuai dengan apa yang diinginkan Allah dan rasul-Nya. Setiap hal yang menyangkut kehidupan kita, entah itu mengenai makanan yang kita konsumsi, pakaian yang kita kenakan, harta yang kita peroleh, atau yang lainnya, kita bisa mengetahui itu halal atau haram, yang itu dibolehkan yang ini tidak, dengan jalan mempelajari ilmu syar’i. Jalan inilah yang akan memberikan kita kebaikan, mendapatkan kehidupan yang berkah dan kebahagiaan yang abadi di surga-Nya kelak.

Sudah seharusnya kita melihat bagaimana para ulama menjalani kehidupan yang penuh berkah dengan mengarungi samudra ilmu yang begitu luas tak bertepi. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang memiliki rasa takut kepada Allah yang begitu besar, karena kedalaman ilmu mereka. Bahkan Allah meninggikan derajat orang-orang seperti mereka, yang menaruh perhatian sangat besar terhadap ilmu, dalam firman-Nya,



“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujaadilah 11)

Semoga kita diberikan kesanggupan dan kelezatan dalam menyelami lautan ilmu Islam yang begitu luas dan begitu dalam. Semoga kita bisa merasakan lezatnya mengamalkan ilmu, merasakan kebahagiaan dan ketentraman hati, serta diliputi rasa syukur kepada-Nya. Semoga kita dimudahkan untuk menyampaikan dan mendakwahkan ilmu yang sudah kita ketahui kepada siapa saja.

Sumber : http://www.belajarislam.com/mulia-karena-ilmu/
Read More..

Sabtu, 19 Januari 2013

Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Timbangan Syariat

Perintah mentaati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan memegang teguh Sunnahnya banyak terdapat di dalam ayat Al-Qur’an dan banyak hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Semuanya adalah nash-nash yang secara sharih (eksplisit) menunjukkan kewajiban mentaati Nabi, mengikuti Sunnahnya, tunduk kepadanya tanpa membantah, dan tidak melanggar perintah dan larangannya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :


وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (QS.Al-Hasyr :7)


قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah:"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". (QS. Ali-Imron :31)

Dan Allah memperingatkan orang yang melanggar perintah NabiNya dengan firmannya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS.An-Nur :63)

Dan banyak sekali Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menunjukkan kewajiban mentaati Rasulullah dan mengikuti Sunnahnya dan peringatan agar menjauhi bid’ah.

Imam ahmad, Abu Daud, At-Tirmizi dan dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Al-Irbadl bin Sariyah Radiyallahu ‘Anhu bersabda :

‘‘ Sesungguhnya siapa di antara kamu yang hidup maka akan melihat banyak perselisihan. Maka kamu harus berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah khulafa’ Ar-Rasyidin sesudahku yang mendapat petunjuk.Gigitlah Sunnah itu dengan gigi geraham. Dan waspadalah terhadap hal-hal yang diperbaharui. Karena setiap hal yang diperbaharui adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.’’.

Nash-nash tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa setiap muslim diperintahkan untuk ittiba’ (mengikuti Sunnah) dan dilarang ibtida’ (menciptakan bid’ah) atau mengadakan hal-hal baru yang bertentangan dengan agama. Aisyah Radiyallahu ‘Anha meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :

‘‘Barangsiapa yang mengadakan di dalam urusan (agama) kami ini sesuatu hal baru yang bukan bagian darinya, maka hal ini ditolak.’’ ( HR. Muttafaq Alaih. Shahih Al-Bukhari, 2697 dan Shahih Muslim, 1718 )

Dalam hal ini, terdapat banyak ucapan dan perbuatan generasi Salaf yang bisa menjelaskan keteladanan umum pada generasi-generasi terbaik, dan memberikan contoh terbaik bagi umat Islam kapan saja dan dimana saja. Maka seyogyanya setiap muslim dapat mengambil inspirasi darinya untuk menemukan jalan keselamatan.

Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu berkata: ‘’Ikutilah Sunnah dan jangan membuat bid’ah. Maka kamu akan dicukupi.

Ibnu Abbas Radiyallahu ‘Anhu berkata : ‘‘ Setiap tahun pasti manusia menciptakan suatu bid’ah dan mematikan suatu Sunnah. Sehingga bid’ah-bid’ah akan hidup dan Sunnah-Sunnah akan mati’’.

Ibnu Umar berkata : ‘‘Setiap bid’ah adalah sesat, meski semua orang melihatnya baik’’.

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata : ‘‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para pemimpin sesudahnya telah menetapkan Sunnah-Sunnah. Barangsiapa mengikutinya, ia akan mendapat petunjuk. Barangsiapa menggunakannya untuk meminta pertolongan, ia akan mendapat pertolongan. Dan barangsiapa yang menyalahinya dan mengikuti jalan yang tidak dilalui oleh orang-orang yang beriman, Allah akan membiarkannya tersesat dan memasukkannya ke dalam Neraka Jahannam, tempat kembali yang paling buruk’’.

Imam Malik Rahimahullah berkata : ‘‘Generasi akhir umat ini tidak akan bisa menjadi baik kecuali dengan menggunakan sesuatu yang membuat baik generasi awalnya’’.

Ulama Salaf lainnya berkata : ‘‘ Semua jalan tertutup bagi makhluk, kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam’’.

Kini, agama semakin terasing, pendukung dan pembelanya semakin sedikit, musuh dan lawannya semakin banyak, iman pemeluknya semakin lemah dan lebih asyik dengan hal lain, para penganjur keburukan, bid’ah dan khurafat semakin banyak. Setelah itu keadaan pun berubah, yang makruf menjadi mungkar dan yang mungkar menjadi makruf, yang Sunnah dianggap bid’ah dan bid’ah dianggap Sunnah. Beragam bid’ah pun menyebar di tengah mansyarakat dan merasuk ke dalam akal mereka sebagaimana darah yang mengalir di sekujur badan. Laa haula wala quata illa billah.

Salah satu bid’ah yang kini banyak beredar dan laku keras, bahkan telah tertanam kuat banyak sekali di dunia Islam dan telah mengajar di dalam hati banyak orang, sehingga seakan menjadi bagian dari perkara ma'ruf yang tidak lagi diperdebatkan, adalah perayaan dan pertemuan yang diadakan pada bulan Rabi’ul Awal. Padahal perayaan itu tidak pernah diperintahkan oleh Allah. Para pelakunya menyebutnya, ‘‘Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam’’. Bahkan ada sebagian orang yang mengkhususkan bulan ini untuk pergi ke Makkah dan Madinah dalam rangka mendekatkan diri dengan tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ini adalah amal perbuatan yang tidak berdasar. Dan mengkhususkan bulan itu untuk acara tersebut juga tidak memiliki dalil yang kuat.

تِلْكَ أَمَانِّيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah:"Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar". (QS.Al-Baqarah :111)

Maka mengkhususkan malam-malam bulan Rabi’ul Awal atau sebagian malam untuk mengadakan acara-acara perayaan semacam itu tidak boleh menurut Syara’. Hal itu didasarkan pada hal-hal sebagai berikut :

1. Acara itu adalah bid’ah yang di ciptakan di dalam agama. Karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Khulafa’ Ar-Rasyidin, para Sahabat maupun para Tabi’in. Sementara mereka adalah orang-orang yang lebih tahu tentang Sunnah Rasul, lebih mencintai Rasulullah, dan lebih istiqamah dalam mengikuti syari’atnya di banding generasi sesudahnya. Sehingga kita perlu mengikuti apa yang mereka lakukan. Andai acara-acara semacam itu baik, niscaya mereka lebih dulu melakukannya sebelum kita.

2. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist-Hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mewajibkan kita mentaati Rasulullah, memegang teguh Sunnahnya, dan melarang kita menciptakan bid’ah di dalam agama.

3. Allah Subahanahu Wata’ala telah menyempurnakan agama ini untuk kita dan Rasululah pun telah menyampaikannya secara nyata. Dus, menciptakan acara peringatan maulid semacam itu, secara tersirat menunjukkan bahwa Allah belum menyempurnakan agama ini. Dan juga menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam belum menyampaikan apa yang diturunkan Allah kepadanya. Sampai orang-orang belakangan setelah era generasi utama berlalu datang dan menciptakan hal baru di dalam agama Allah yang tidak pernah dia Izinkan. Mereka mengira bahwa hal baru itu dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Tindakan ini cukup layak dianggap sebagai pembangkangan terhadap Allah. Pelecehan terhadap Syari’atNya, dan kecurigaan terhadap Rasulullah dalam menyampaikannya.

4. Mengadakan acara-acara semacam ini adalah penyimpangan dari jalur kebenaran dan menyerupakan diri dengan orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dalam merayakan hari raya mereka. Padahal kita telah dilarang menyerupakan diri kita dengan mereka.

5. Masalah ibadah adalah tauqifiyah (dogmatis). Tidak ada seorang pun yang berhak menciptakan syari’at baru dalam konteks ini. Ibadah yang dibenarkan menurut syari’at ialah ibadah yang telah diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Allah berfirman :


أَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُاْ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَالَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah. (QS. Asy-Syura :21)

6. Kaidah-kaidah syari’at dan tujuan-tujuan agama menolak acara-acara semacam itu. Karena salah satu kaidah yang ditetapkan di dalam syari’at menyatakan bahwa sesuatu yang diperselisihkan orang harus dikembalikan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Dalam hal ini, kita telah mengembalikannya kesana. Ternyata kita menemukan larangan terhadap acara-acara semacam itu. Begitu juga kaidah sadduz dzari’ah ( menutup akses menuju perbuatan dosa) dan kaidah izalatul dlarar (menghilangkan mudharat). Dan mudharat terbesar adalah mudharat di dalam agama. Di samping kemungkinan-kemungkinan yang terdapat di dalamnya. Yang paling besar adalah menyekutukan Allah, memanjatkan do’a kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Meminta dipenuhinya kebutuhan dan dilenyapkannya kesulitan, dan membaca kasidah-kasidah (syair-syair) yang bermuatan syirik untuk memuji-memuji Nabi secara berlebihan. Selain itu juga terjadi pembauran antara lawan jenis, membelanjakan harta secara berlebihan dan sia-sia. Menyuarakan kata-kata yang tidak berguna dengan suara yang keras. Padahal bulan kelahiran Rasulullah adalah bulan kematian beliau juga. Jadi, bersuka cita pada bulan itu tidak lebih pantas dari pada berduka cita.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata : ‘Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah di luar waktu-waktu yang telah ditetapkan oleh syara’, seperti menetapkan sebagian malam bulan Raabi’ul Awal yang dikenal dengan ‘’Malam Maulid’’ untuk beribadah termasuk bid’ah, yang tidak pernah dianjurkan dan dilakukan oleh generasi Salaf yang Shalih.

Beliau juga mengatakan : Hal itu tidak pernah dilakuakan oleh generasi Salaf, kendati ada alasan untuk itu dan tidak ada halangan untuk melakukannya. Andaikata perbuatan ini adalah kebajiakan yang murni atau unggul, niscaya generasi salaf itu lebih berhak melakukannya di banding kita. Karena mereka lebih mencintai dan lebih menghormati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di banding kita. Dan mereka memiliki komitmen yang lebih kuat terhadap kebajikan.

Dan beliau berkata: adapun membuat acara maulid yang diisi dengan nyanyian, tarian dan lain-lain, tidak seorangpun ulama dan ahli iman yang ragu untuk menyebutnya sebagai kemungkaran yang dilarang. Dan tidak ada yang menganjurkan hal itu selain orang yang bodoh dan orang zindiq.

Terakhir, anda harus tahu bahwa orang-orang yang melakukan praktik-praktik bid’ah semacam itu, dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan.

Pertama : Orang-orang bodoh yang suka bertaklid (meniru) lisanul hal mereka mengatakan: ‘‘ kami melihat orang-orang melakukan sesuatu maka kami pun melakukannya’’. Dan ini cukup membuatnya tersesat. Dalam konteks inilah Allah berfirman,


إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

"Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (QS. Az-Zuhruf :23)

Kedua: Orang yang mencari keuntungan ekonomi dan sesuap nasi. Mereka ingin memuaskan syahwat mereka di balik acara-acara tersebut dengan makan-makan, minum-minum, bersenda gurau, bermain-main dan berkumpul secara batil.

Ketiga: Penganjur keburukan dan kesesatan yang ingin merusak Islam, mamalingkan orang dari Sunnah dan menyibukkannya dengan bid’ah dan khurafat.

Jadi, bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian Umat Islam. Sampai kapankah anda terombang-ambing oleh kebatilan dan kesesatan semacam itu ? Sampai kapankah anda akan terus menciptakan hal baru dan mengadakan perubahan di dalam agama Allah ? Mana rasa cemburu anda terhadap aqidah tauhid ? Mana semangat anda untuk berpegang teguh pada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alihi Wasallam ? Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.

‘‘ Sesungguhnya Islam bermula sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali menjadi sesuatu yang asing sebagaimana mulanya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing’’. (HR. Muslim, 145 dan Abu Ya’la, 619)

Bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kebenaran itu diketahui berdasarkan dalil-dalil syar’i, bukan berdasarkan apa yang dilakukan manusia. Jadi, jangan tertipu oleh banyaknya orang yang menciptakan bid’ah dan mengadakan acara-acara tersebut. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :


وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah . (QS. 6:116)


قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah:"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". (QS. 3:31)

Dengan dalil-dalil yang begitu nyata dan bantahan-bantahan yang begitu jelas, kita dapat melihat dengan jelas betapa rapuh dan lemahnya bid’ah perayaan maulid itu. Siapa pun yang punya sedikit mata hati, netralitas dan kemauan mengikuti kebenaran pasti akan menyadari bahwa acara perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah kesalahan di dalam agama dan termasuk bid’ah. Dan dari media yang penuh barakah ini, kami menyerukan segenap umat Islam dalam rangka menggugurkan kewajiban dan menyampaikan amanat kepada umat agar mereka semua bertakwa kepada Allah dan meninggalkan perbuatan-perbuatan semacam itu. Kami menyerukan kepada mereka dengan seruan belas kasih dan kekhawatiran akan adzab yang akan menimpa ketika mereka berdiri di hadapanNya dengan membawa dosa yang bertumpuk-tumpuk.

Sungguh, dari tempat yang menjadi titik tolak penyebaran kalimat yang benar dan menggema di seluruh penjuru dunia ini, kami menyerukan dengan seruan akal dan kasih sayang agar meninggalkan sikap panatik, untuk mencari kebenaran dan mengikuti apa yang ditunjukkan oleh dalil dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Kami menyerukan agar bid’ah-bid’ah semacam itu ditinggalkan, karena akan hanya membuat para pelakunya semakin jauh dari Allah dan menjadi penghalang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Sunnahnya. Kami juga menyerukan agar mereka memegang teguh Sunnah Nabi. Karena sudah sekian lama agama Islam yang cemerlang ini dirusak citranya oleh perayaan-perayaan yang batil itu. Juga bid’ah-bid’ah sejenis yang telah menyelewengkan kesempurnaan Islam, menodai keindahannya, dan merusak esensinya. Sesungguhnya, ini adalah seruan yang jauh dari fanatisme dan hawa nafsu, tetapi ajakan menuju kebenaran.
Allah berfirman:


تِلْكَ أَمَانِّيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

" Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah:"Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar". (QS. Al-Baqarah :111)


فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Qashas :50)

Read More..

Selasa, 15 Januari 2013

Tanpa Doa bagai Tentara tanpa Senjata

Berbeda dengan makhluk-Nya, Allah mencintai orang-orang yang rajin memohon kepada-Nya. Karena hal itu menunjukkan bahwa manusia merasa fakir (butuh) kepada Allah. Dan Allah justru membenci orang-orang yang angkuh dan enggan berdoa kepada-Nya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka Allah murka kepadanya” (HR Tirmidzi dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Realitanya, ada orang-orang yang merasa dirinya cukup, merasa bisa mendapatkan keinginannya tanpa pertolongan Rabbnya, lalu meninggalkan doa. Sudah barang tentu ia akan mengenyam kesulitan demi kesulitan dalam menjalani hidup, di dunia apalagi di akhirat. Allah berfirman,

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. “ (QS al-Lail 8 – 10)

Tanpa Doa, Seperti Tentara tanpa Senjata

Di antara kaum muslimin, ada lagi yang meninggalkan doa karena merasa tak mampu memenuhi persyaratannya. Seperti orang yang berkata, “Saya biasa makan dari rejeki yang tak jelas halal haramnya, sedangkan orang yang mengkonsumsi barang yang haram tidak dikabulkan do’anya, maka percuma saja kalau saya berdoa.” Laa haula wa laa quwwata illa billah. Adakah sesuatu yang bisa diandalkan seorang muslim melebihi ‘senjata’ doa? Hingga ada yang rela mencampakkan doa agar bebas makan apa saja?

Seseorang yang mengerti urgensi doa, tentu lebih memilih untuk memenuhi syarat terkabulnya doa, katimbang ia harus bertelanjang dari doa. Karena meninggalkan hal yang haram itu lebih mudah dijalani daripada hidup tanpa menyandang senjata doa. Tanpa doa, keadaan seseorang lebih berat dari tentara yang tidak memiliki senjata, petani yang tidak memiliki cangkul, orang sakit yang tak mendapatkan obat, atau seseorang yang ingin membeli barang tanpa memiliki uang.

Hanya mengandalkan kecerdasan pikir, kekuatan fisik maupun alat canggih, jelas tidak memadai bagi manusia untuk bisa meraih tujuan bahagia yang sempurna, atau mencegah datangnya marabahaya. Alangkah kecil modal dan kekuatan, sementara begitu besar cita-cita yang diharapkan, dahsyat pula potensi bahaya yang mungkin datang di hadapan. Untuk itu, manusia membutuhkan ‘kekuatan lain’ di luar dirinya untuk merealisasikan dua tujuan itu. Dan barangsiapa yang menjadikan doa sebagai sarana, niscaya dia akan menjadi orang yang paling kuat, paling sukses dan paling beruntung. Karena doa mengundang datangnya pertolongan Allah Yang Maha Berkehendak, Mahakuasa, Mahakuat dan mampu melakukan apapun yang dikehendaki-Nya, Fa’aalul limaa yuriid. Karena itulah, Ibnul Qayyim dalam al-Jawaabul Kaafi berkata, “Doa adalah sebab yang paling kuat untuk mencegah dari perkara yang dibenci dan menghasilkan sesuatu yang dicari.”

Khasiat Doa Sepanjang Masa

Allah telah banyak mengisahkan dahsyatnya doa, yang menjadi solusi problem-problem besar dan menjadi sebab yang menyelamatkan dalam banyak peristiwa genting dari zaman ke zaman. Dan meski dengan variasi dan kadar yang berbeda, sebenarnya problem-problem yang di hadapi manusia dari zaman ke zaman memiliki karakter yang nyaris sama.

Jika di zaman ini banyak orang yang galau, atau berduka lantaran kesulitan yang menghimpitnya, maka dahulu Nabi Yunus ‘alaihissalam pernah mengalami hal yang sama dan bahkan lebih berat. Toh, kegalauan itu akhirnya sirna dengan doa beliau, “laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin,” Karena Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan.” (QS al-Anbiya’ 88)

Maka adakah orang yang sedang menyandang kesulitan hari ini mengingat dan berdoa sebagaimana doa beliau?

Jika sekarang banyak orang menderita sakit yang tak kunjung sembuh, dan tak jarang kesulitan untuk menemukan sebab dan obatnya, hal yang sama pernah menimpa Nabi Ayyuub ‘alaihissalam. Dan pada akhirnya penyakit beliau sembuh dengan doa, “Rabbi inni massaniyadh dhurru wa Anta Arhamur Raahimiin”,

Karena Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya, “Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya.” (QS al-Anbiya’ 84)

Jika sekarang banyak orang mengalami rasa takut akan datangnya bencana, atau khawatir dengan bahaya yang mengancam, solusi dari semua itu juga telah ditempuh oleh Nabi yang mulia, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam, yakni dengan doa, “hasbunallahu wa ni’mal Wakiil”, maka Allah menghindarkan mereka dari bahaya, sebagaimana firman-Nya,

“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa,” (QS Ali Imran 174)

Begitulah doa, mampu menjadi solusi saat manusia angkat tangan untuk memberi solusi. Doa juga efektif menjadi jalan keluar ketika segala cara menemui jalan buntu. Doa juga mampu mencegah bahaya, yang dosisnya tidak mampu dibendung oleh kekuatan manusia.

Semestinya doa bukan menjadi alternatif terakhir, atau ia baru diingat setelah ikhtiyar tak menghasilkan jalan keluar. Mestinya doa tetap mengiringi sebelum, di saat dan setelah ikhtiyar ragawi dilakukan.

Faktanya, masih jamak terjadi di kalangan kaum muslimin. Mereka begitu getol dan rajin berdoa saat menghadapi situasi khusus. Saat anak mencari sekolah, ketika sedang mencari lowongan kerja, tatkala ada keluarga yang sakit, atau ketika ada tanda-tanda bencana akan terjadi. Selebihnya, tak ada doa dipanjatkan, tak tersirat dalam pikirannya bahwa Allahlah yang kuasa segalanya, untuk memberi atau menahan sesuatu yang diharapkan. Manusia tidak lepas sedikitpun dari pertolongan Allah untuk meraih kesuksesan. Sehingga ia perlu berdoa kepada Allah untuk kebaikan seluruh urusannya, bukan hanya mengandalkan kehebatan dirinya yang hakikatnya sangat lemah tanpa pertolongan Allah. Karenanya, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah,

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, rahmat-Mu aku harap, dan janganlah Engkau serahkan (nasib) diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata, perbaguslah untukku segala urusanku, tidak ada ilah yang haq kecuali Engkau.” (HR Abu Dawud)



Doa Harian, Menjawab Segala Kebutuhan

Adalah baik jika seseorang membiasakan doa-doa harian yang bersifat ta’abbudiyah maupun adab. Seperti doa sebelum dan sesudah makan, hendak tidur dan setelah bangun, masuk masjid atau keluar, maupun doa-doa lain yang disyariatkan. Ketika ia menjalaninya dalam rangka menjalani sunnah, ia mendapatkan pahala. Inilah fungsi doa yang disebut dengan du’a al-‘ibaadah (doa sebagai realisasi ibadah). Namun ada fungsi lain dari doa, yang disebut dengan du’a al-mas’alah (doa sebagai permohonan). Ketika doa dilantunkan tanpa adanya kesadaran bahwa dirinya sedang memohon kepada Allah, maka maksud yang dikehendaki dari makna doa tidak akan terwujud. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ



“Berdoalah kepada Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan alpa.“ (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan, “hasan”).

Andaikan seorang muslim membiasakan diri dengan doa-doa harian yang disyariatkan, sekaligus diiringi dengan kesengajaan dan pengharapan sebagaimana makna yang terkandung dalam doa, niscaya tercoverlah kebutuhan-kebutuhannya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Karena doa-doa yang Nabi ajarkan dari bangun tidur hingga bangun tidur kembali sudah mencakup segala hal yang dibutuhkan manusia, baik kemaslahatan diiniyyah maupun dunyawiyyah. Permohonan sehat dan dijaga dari penyakit, kemudahan segala urusan, permohonan rezeki, perlindungan dari segala gangguan setan dan keburukan, maupun permohonan jannah dan terhindar dari neraka.

Generasi terbaik di kalangan sahabat, berusaha menghadirkan pengharapan saat berdoa dengan suatu doa yang menjadi rutinitas harian. Ibnu Katsier dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ibnu Abi Hatim, bahwa ‘Irak bin Malik, selepas shalat Jumat beliau berdiri di pintu masjid beliau berdoa dengan doa keluar masjid lalu berkata, “Ya Allah, saya telah memenuhi panggilan-Mu, lalu shalat dengan shalat yang Engkau fardhukan atasku, akupun hendak bertebaran di muka sebagaimana yang Engkau perintahkan, maka berilah rezki kepadaku dari karuia-Mu, karena Engkau adalah sebaik-baik Pemberi rezki.”

Perlu kiranya digaris bawahi, bahwa doa dengan segala kelebihan dan faedahnya, tidak menafikan atau menghapus keharusan untuk ikhtiyar. Masing-masing memiliki kadar tersendiri sebagai sebab terkabulnya doa, di samping juga memiliki nilai ibadah tersendiri Wallahu a’lam.

Abu Umar Abdillah
Pimred Majalah Ar-Risalah
Read More..